Oh Snap!

Direktori Wisata Indonesia @2012 - 2020 | All Right Reserved

Home / Heritage / Wisata Edukasi Heritage di Museum Trinil Ngawi

Wisata Edukasi Heritage di Museum Trinil Ngawi

Menilik Jejak Sejarah Perjalanan Makhluk Hidup di Museum Trinil Ngawi

Direktori Wisata – Wisata edukasi tentang sejarah evolusi manusia dan makhluk hidup di Museum Trinil Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Mengisi liburan tidak harus jauh dan memakan biaya yang terlalu mahal karena jauh hingga keluar kota. Bagi sahabat Direktori Wisata yang tinggal di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur bisa menghabiskan waktu libur bersama keluarga ke tempat wisata yang bernuansa ilmu pengetahuan dan sejarah. Salah satunya ke Museum trinil yang berlokasi di Desa Kawu, Kedunggalar Ngawi, sekitar 15 km dari pusat Kota Ngawi, Jawa Timur.

Keindahan arsitertur bangunan dari Museum Trinil terlihat unik dan mampu menarik perhatian para wisatawan tuk bertandang ke lokasi. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Konon informasi yang Direktori Wisata Indonesia terima di lokasi, terdapat tugu peringatan, dimana tugu tersebut dibangun oleh seorang Ilmuan asal Belanda yang bernama “Eugene Dubois”.

Tugu Museum Trinil Ngawi Jawa Timur

Konon tugu tersebut dijadikan sebagai tanda ditemukannya fosil manusia kera yang berdiri tegak “Pithecantropus Erectus” yang berupa langit tengkorak dan tulang paha, penemuan ini dikategorikan dalam genus “Homo Erectus” asal Jawa.

Sedangkan disi lain dari area Museum Trinil pada halaman museum, kita juga dapat menemukan banyak patung hewan purba, di mana di lokasi ini nantinya kita dapat melihat koleksi binatang purba yang berukuran lebih besar dibanding hewan sekarang.

Kono informasi yang Direktori Wsata dapatkan di lokasi, asal muasal sejarah berdirinya Museum Trinil di Kabupaten Ngawi ini dikarenakan ditemukannya situs fosil makhluk purba pada ribuan tahun yang lalu. Untuk penyebutan nama Trinil sendiri berawal dari tiga nama desa yang menjadi objek penelitian Eugene Dubois mengenai Fosil. Dimana tiga desa tersebut meilputi Desa Kawu, Desa Gemarang dan Desa Ngancar, sehingga diberi sebutan Tri.

Sedangkan untuk lokasi ketiga desa tersebut berada dalam kawasan bengawan Solo dimana bengawan ini memiliki debit air yang besar layaknya sungai Nil yang berada di Mesir sehingga dikiaskan dengan sungai Nil dan jadilah nama yang disebut Trinil. Begitulah informasi yang kami dapatkan dari petugas di lokasi Museum Trinil Kabupaten Ngawi.

Hingga saat ini museum Trinil sering dikunjungi oleh pelajar dan kalangan akademisi. Selain berwisata, mereka juga dapat memperoleh banyak pengetahuan serta pengalaman mengenai fosil, penelitian ilmiah juga sering dilakukan oleh para peneliti untuk mengungkapkan sejarah pada zaman purba.

Lanjut Perjalanan jelajah di Museum Trinil Ngawi…..
Memasuki area museum, kita akan menemukan ruangan yang berisi beraneka macam pameran fosil hewan dan tumbuhan. Beberapa fosil hewan yang ditunjukkan banyak ragamnya, conthnya seperti bagian gading gajah purba, banteng purba, tulang rahang bawah macan, tanduk kerbau purba dan jenis hewan purba lainnya. Fosil-fosil tersebut terlihat tertata rapi di dalam almari dan masing-masing fosil diberi keterangan yang mengisahkan masing-masing benda tersebut dilengkapi nama latinnya.

Di dalam ruang pameran museum Trinil juga tersedia koleksi tengkorak manusia purba, sayangnya yang di pamerkan kepada pengunjung hanya berupa duplikat dan yang asli telah di bawa ke Negara Belanda “ kata Catur Harigumono selaku pemelihara Museum Trinil”.

Tidak hanya itu yang bisa kita nikmati di Museum Trinil, bagi sahabat Direktori Wisata Indonesia yang datang ke tempat wisata edukasi heritage di museum Ngawi ini juga dapat melihat berbagai koleksi batu di zaman purba.

Lanjut perjalanan di dalam area Museum Trinil……
Untuk jenis batu yang dipamerkan berupa batu andesit, batu bata, batu putih, terakota, keramik dan logam. Sebenarnya di museum Trinil ini masih memiliki banyak koleksi, terdapat 1.500 fosil, namun yang dipamerkan kepada pengunjung baru sekitar 1.000, selebihnya masih dalam proses penataan dan masih di simpan dalam gudang museum.

Fosil Gading Gajah Purba Museum Trinil Ngawi

Melihat fosil yang berada di tempat wisata Museum Trinil ini seakan kita merasakan hidup di tengah masyarakat purba pada ribuan tahun yang lalu. Di mana manusia mampu bertahan hidup dengan keadaan yang masih primitif.

Selain koleksi berbagai fosil yang menjadi andalan yang dipamerkan di Museum Trinil, di lokasi ini juga terdapat fasilitas yang dapat dinikmati pengunjung. Di kawasan wisata Ngawi ini juga terdapat area bermain anak-anak di mana anak-anak bebas bermain sesuai yang diinginkan dengan catatan masih tetap dalam pengawasan, ruang pembelian tiket, ruang informasi, ruang studi koleksi, dan ruang laboratorium, terdapat pula toilet umum, tempat ibadah serta area parkir yang luas.

Lelah setelah selesai bermain dan mengitari seluruh sudut museum, anda para pengunjung dapat bersantai dan beristirahat bersama rombongan dan keluarga di pendopo yang berada tepat di halaman depan museum yang bisa kita pergunakan. Informasi lebih lanjut sahabat Direktori Wisata Indonesia bisa menghubungi pengelola museum.

Untuk dapat memasuki kawasan wisata dan melihat semua jenis koleksi fosil di museum, anda tidak perlu khawatir untuk membayar mahal karena konstribusi yang ditentukan kepada pengunjung hanya Rp. 5.000 bagi wisatwan lokal serta Rp. 10.000 bagi wisatawan asing.

Sedangkan untuk jam operasional Museum Trinil Ngawi buka setiap hari mulai Selasa – Minggu dari pukul 07.30 pagi hingga pukul 15.30 sore. Untuk hari Senin museum ini ini tutup sebagai hari libur spesial.

Baca juga : Wisata Heritage di Museum Bale Panyawangan Diorama Nusantara Purwakarta

Cara mengujungi Museum Trinil Ngawi sangatlah mudah karena letak bangunan museum sangat strategis sehingga mudah diakses dari arah manapun. Kondisi jalan juga sangat mendukung sehingga dapat ditempuh dengan berbagai kendaraan baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat, dapat pula ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi.

Untuk menuju tempat wisata Museum Trinil kita dapat berjalan melalui jalan raya Ngawi – Solo, di sana kita akan menemukan pertigaan, kemudian dari pertigaan ambilah menuju ke arah Utara, kemudian teruslah berjalan lurus kurang lebih 3 km hingga sampai di Museum Trinil.

Baca juga : Wisata di Museum Nasional Indonesia Jakarta

Seabagai patokan, letak tempat wisata edukasi heritage Museum Trinil Ngawi ini tepat berada di tepi sungai bengawan Solo. Di sepanjang perjalanan kita akan disuguhi pemandangan indah kota Ngawi dengan melewati perumahan dan area persawahan. Atau bisa lihat di dalam google map untuk menuju ke lokasi.[]

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar
Translate »
Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :