Oh Snap!

Direktori Wisata Indonesia @2012 - 2020 | All Right Reserved

Home / Wisata Seni dan Budaya / Wisata Budaya Reog Ponorogo

Wisata Budaya Reog Ponorogo

Wisata Budaya Mengenal Reog Ponorogo Antara Idealis Dan Sindiran

Direktori Wisata. – Reog Ponorogo merupakan salah satu kekayaan tradisional Bangsa Indonesia yang dikenal miliki banyak versi cerita. Terlepas dari sebuah kisah cerita dari masing-masing versi kisah cerita “Reog Ponorogo” kesenian ini memiliki keunikan tersendiri dalam kisah yang disampaikannya sebagai pesan di dalamnya.

reyog-ponogoro

Dari informasi yang Direktori Wisata Indonesia terima, versi cerita kisah Reyog dari Ki Ageng Ketut Suryongalam atau yang dikenal dengan sebutan Ki Ageng Kutu adalah versi cerita asli Reog Ponorogo. Sebagai informasi, bahwa Suryongalam merupakan pejabat Kerajaan Majapahit pada masa Bhre Kertabumi dari Kerajaan Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15.

Sebagai pejabat sekaligus seorang demang Ki Ageng Ketut Suryongalam menyindir rajanya yang pada saat itu lebh banyak dikendalikan oleh permaisurinya sehingga digambarkan sebagai singo barong yang merupakan perlambangan seorang raja yang di tunggangi oleh merak lembut sebagai perlambang permaisurinya.

Di dikisahkan dalam catatan sejarah bahwa Ki Ageng Kutu membelot terhadap Kerajaan Majapahit, beliau melihat dinasti Kerajaan Majapahit akan berakhir, lalu beliau meninggalkan segala artibut pangkat dan kedudukannya di Kerajaan Majapahit dan mendirikan sebuah perguruan untuk megajarkan generasi muda seni beladiri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan. Maksud dari Ki Ageng Ketu mendirikan padepokan dengan harapan generasi muda akan menjadi bibit dari kebangkitan bagi Kerajaan Majapahit kelak nantinya.

Lanjut kisah, sadar dengan keadaan pasukannya lebih kecil dari pasukan Kerajaan Majapahit, maka pesan politik Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukkan seni drama Reyong yang merupakan sebuah sindoroan kepada Raja Bhre Kertabumi dan kerajaannya. Melalui pagelaran seni drama Reyog inilah Ki Ageng Kutu membangn perlawanan masyarakat  lokal dengan menggunakan kesenian Reog.

Dari keterangan yang Direktori Dapatkan di lokasi, bahwa tokoh Warok yang dikelilingi tersebut sebagai penggambaran yang pernah dilakukan oleh Ki Ageng Kutu yang dikelilingi oleh para murid-muridnya dulu. Tohoh yang dimainkan tersebut juga merupakan sebagai bentuk penggambaran Raja Majapahit. Sedangkan bulu merak yang ada di atas kepala barong tersebut melambangkan kecongkakan atau kesombongan sang Raja yang terpengaruh kecantikan permaisurinya dalam menentukan kebijakan Kerajaan Majapahit pada waktu itu.

Sedangakn untuk penari kuda dan Jathilan oleh seorang lali-laki yang lemah gemulai dengan dandanan seperti wanita itu, menggambarkan hilangnya keprajuritan Kerajaan Majapahit. Dan untuk tarian penunggang kuda yang cukup aneh tersebut menggambarkan ketidakjelasan peranan prajurit kerajaan, ketidak disiplinan prajurit terhadap rajanya. Sedaangkan untuk penari kuda (Jathilan) yang berputar-putar di antara “Barong” merupakan penggambaran raja yang sedang berusaha mengenbalikan kewibawaannya kepada rakyatnya.

Sedangkan untuk peran Bujang Ganong yang memiliki wajah berwarna merah melotot dan berhidung panjang merupakan sebuah gambaran pujangga kerajaan yang bijaksana, bernalar panjang tetapi tidak digubris oleh Raja sehingga ia harus menyingkir dari kerajaan sebagai prinsip idealis yang dimilikinya.

Wisata Budaya Reyog Ponorogo ini merupakan sebuah catatan bagi kita untuk mengenal lebh jauh akan nilai tradisi dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Dengan mengenal lebih dekat sejarah asal muasala ide kreatifiats seni tradisi yang dilahirkan dan diberinama Reog Ponorogo ini, kita akan lebih banyak tahu bahwa kesnian tradisonal Reog Ponorogo hanya berasal dari Indonesia, di mana letak geografis dari situs sejarah Majapahit tersebut berada di tanah Jawa.[]

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest

13 Comments

  1. saya baru tahu nih mas sejarah tentang reok dan arti dari setiap atribut yang dipakai.

      • Kesenian ini harus kta lestarikan..

  2. yang saya heran, kok bisa ya mengangkat orang di kepalanya reog itu, kan pakai mulut ya?

    • Berarti kalau sudah besar tidak sering lihat reog lagi dong Mas ? he,, he, he,, 😀

  3. Ternyata… ada banyak simbol di reog ya mas. Saya baru tahu loh. Terimakasih sharingnya. Sangat bermanfaat. Saya pribadi, suka dengan budaya lokal dan reog salah satunya. meski ada unsur mistis, tetapi saya menganggapnya sebagai salah satu budaya Indonesia yang layak dilestarikan

    • Benar mba, dengan mengenal lebih dekat tetang perjalanan sejarah seni budaya tradisnal bangsa Indonesia, membuat kita lebih tahu asal usulya, dan tidak menjadi bangsa yang hanya pandai mengakui budaya dan tradisi bangsa lain ya…. 😀

  4. wah saya tau reong tapi soal sejarah tak tau sama sekali, mantap artikelnya kita perlu mengenal budaya-budaya daerah kita sendiri

    • Benar kang, semoga bisa ikut membantu melestarikan dan mensosilisasikan tradisi dan budaya dengan mengenalnya lebih dekat. terimakasih atas kunjungannya.

  5. baru tau kang cerita menarik di balik reog ponorogo…saya hanya tau reognya dan beberapa kali melihat penampilannya…memang menarik dan salah satu pemain menuturkan, kalau ada penyangga di balik topeng utama yang digunakan oleh penari reog, semacam bilah penyangga dan digigit untuk menahan topeng…kalau gak kuat gigi bisa patah juga kang….itulah keanehan reon dan beberapa keunikan dibaliknya…ok makasih infonya kang. menarik, kebetulan istri saya berasal dari tulung agung yang dekat dengan ponorogo….

Comments are closed.

This div height required for enabling the sticky sidebar
Translate »
Ad Clicks :Ad Views :