Oh Snap!

Please turnoff your ad blocking mode for viewing your site content

Tradisi Iyangket Masyarakat Lokal di Jatiluwih Tabanan Bali

Menelisik Kearifan Lokal Masyarakat Desa Wisata Jatiluwih Tabanan Bali

Direktori Wisata – Tahapan ritual yang harus dilaksanakan baik dari mulai masa tanam hingga panen padi beras merah atau beras Bali hingga┬á selesai.

Tradisi Iyangket Jatiluwih Tabanan Bali

Tabanan dikenal sebagai bumi penghasil beras. Salah satu beras yang merupakan hasil budaya petani yang kini menjadi primadona masyarakatnya adalah beras merah. Beras yang merupakan bahan pangan utama masyarakat di daerah tropissangat melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya beras putih yang biasa kita konsumsi, tapi beras merah pun memiliki kandungan gizi yang penting bagi tubuh. Oleh masyarakat Subak Gunungsari padi beras merah sudah dibudidayakan dengan mengikuti siteam irigasi secara tradisional atau yang dikenal dengan istilah subak. Disamping itu cara bertani hingga pemanenan pun tak lepas dari aturan maupun tradisi yang mengacu pada awik-awik Desa Pekraman Jatiluwih

Hamparan sawah yang berundak-undak mengikuti kemiringan lereng menghiasi salah satu sudut pedesaan yang terletak di antara tiga deretan pegunungan yaitu Gunung Batu Karo, Gunung Sanghyang dan Gunung Pohen. Hamparan lahan persawahan seluas sekitar 37 hektar yang juga menjadi lanscape yang juga menjadi obyek wisata alam ini menyuguhkan pemandangan yang indah dari hamparan sawah yang bersusun-susun di ketinggian 700 meter dari permukaan laut.

Kehijauan alamnya pun tak tertandingi dan tak lengkam oleh masa, sebuah potret kehidupan pedesaan yang masih mencintai dan melestarikan kebudayaan pertanian tradisional.Prilaku tradisi masyarakatnya dalam menggarap lahan pertaniannya sangat menghargai apa yang diberikan oleh alam ini dan semuanya saling menunjang, dari air yang jernih, sinar matahari yang tidak hentinya menyinari bulir-bulir padi serta udara pegunungan yang bersih.

Para petani pun mematuhi aturan subak yang mejunjung tinggi nilai dari Tri Hita Karana. Jika halnya sudah memasuki masa tanam, maka petani harus menanam padi beras merah yang bisa tumbuh dengan ketinggian mencapai 1,6 meter. Satu hal yang berbeda dari pertanian lainnya, petani di Jatiluwih menggunakan pupuk organik yaitu dari kotoran ternak seperti kotoran sapi. Tidaklah salah beras merah di sini disebut sebagai bahan pangan organik.

Semua aturan tersebut jika dilanggar maka anggota subak akan dikenakan sangsi sesuai dengan awik-awik. Segala aspek kehidupan di lahan persawahan ini tidak bisa berdiri sendiri. Dengan adanya siteam subak ini membuat keseluruhan aspek pertanian akan saling menunjang satu dengan yang lainnya.

Kecantikan alam Desa Jatiluwih yang tidak lepas dari budaya dan tradisi yang terus dijalankan dan dipatuhi hingga menjadikan kawasan ini sumber penghasil beras merah terbesar di Bali. Bahkan kawasan ini menjadi salah satu Desa Wisata yang bayak diminati oleh para wiatawan lokal maupun mancangera tuk menyaksikan pesona desa wisatanya.

Memasuki masa panen padi sesuai dengan tradisi yang telah diturunkan sejak dulu para wanita disibukan dengan kewajiban mereka yang tidak hanya sebagai buruh panen. Namun juga dalam pelaksanaan niatnya kepada Sang Hyang Widhi. Merekalah yang berhak dan bertanggung jawab atas segala urusan dari penanaman dan panen padiberas merah.

Tradisi Iyangket Bali

Tradisi Iyangket sendiri adalah salah satu dari sekian tahapan ritual yang harus mereka laksanakan baik dari mulai masa tanam hingga panen padi beras merah atau beras Bali ini selesai. Tradisi ini memiliki makna pemujaan kepada Dewa Nini yaitu simbol dari manifestasi dari Dewi Sri yang dipuja sebagai pemberi kesuburan dan kemakmuran bagi para petani.

Istana beliau di simbolkan dengan seikat padi pilihan yang telah dihiasi sebagai perwujudan lelaki dan permpuan. Masing-masing diberi jumlah batang padi yang berbeda. Untuk Dewa Nini sebagai dewa laki-laki dijalin dari 33 batang padi., sedangkan untuk simbol Dewa Nini perempuan dibuat dari 22 batang padi dan keduanya kemudian diselimuti kain berwarna putih dan kuning.

Lanjut……
Sebagai rasa syukur dengan hasil panen, beberapa ikat hasil panen batang padi pun dijalin menjadi satu dan diberi hiasan dedaunan sebagai bentuk saling keterkaitan antar sesama sumber daya alam tersebut.

Dikala mentari telah menampakan cahayanya yang terang warga desa bergegas melaksanakan niatnya pada Dewi Sri dan sedananya yang berstana di tiap-tiap lahan mereka.

Baca juga : Pesona Desa Wisata Tegalalang Ubud Bali

Konon informasi yang Direktori Wisata Indonesia terima di lokasi, Padi beras merah yang digunakan sebagai simbol Dewa Nini memiliki makna bahwa kemakmuran itu benar nyatanya terwujud seperti hasil panen padi yang berkualitas. Maka dari itu dipililah beberapa batang padi sebagai bentuk wujud syukur atas keberhasilan dan panen kali ini.

Pemujaan kepada Dewi Sri yang merupakan sakti dari Dewa Wisnu yang berwenang mengelola sumber daya alam yang bertujuan agar para petani selalu diberikan kemakmuran. dan kekayaan alam yang selalu dalam lindungan Sang Hyang Widhi.

Menyaksikan kegiatan tradisi Iyangket di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan Bali mengingatkan kita akan pesan alam yang selama ini diberikan kepada kita maka kitapun sebagai makhluk cipataannya senan tiasa menghargai dan menjaganya. Itulah harapan yang selalu dipanjatkan kehadapan Tuhan daam berbagai wujud manifestasi Nya. []

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
  • stumbleupon
This div height required for enabling the sticky sidebar
Ad Clicks :Ad Views :