Oh Snap!

Direktori Wisata Indonesia @2012 - 2022 | All Right Reserved

Home / Indonesia / Jaga Adat melalui Festival Lembah Baliem di Papua

Jaga Adat melalui Festival Lembah Baliem di Papua

/

Direktori Wisata – Lembah ini luas sekali. Jika diambil garis panjangnya capai 80 km dan lebar sekitaran 20 km. Yang buat takjub, lembah ini terlihat cantik sekali. Keelokan yang asli alami, karena hampir belum tersentuh. Kece.

Jaga Adat melalui Festival Lembah Baliem di Papua

Tidak hanya itu. Udaranya juga sejuk sekali. Bisa saja, karena lembah ini ada di ketinggian 1.600 m di permukaan laut. Dasarnya, melihat lembah yang ada di Pegunungan Jayawijaya ini betul-betul membahagiakan.

Lebih asyiknya kembali tiba ke lembah ini bersamaan dengan acara sebuah aktivitas besar, Festival Lembah Baliem, namanya. Ya, di sini tiap tahun, tepatnya tiap bulan Agustus digelar festival itu.

Nama festival yang adopsi nama lokasinya, Lembah Baliem. Dapat dipikirkan, sekalian nikmati eksotisme lembah ini, pengunjung disajikan pertunjukan yang sangat melipur. Tentunya membahagiakan sekali.

Festival Lembah Baliem memang punyai daya tarik yang kuat. Tidaklah aneh, bila karisma aktivitas ini telah go-international. Bagaimana tidak, festival ini berisikan tiruan dari sebuah adat yang telah berjalan lama secara temurun.

Aktivitas itu berbentuk atraksi perang dari beberapa suku yang diam di Lembah Baliem. Mereka ialah Suku Dani, Lani dan Yali. Kabarnya, aktivitas perang antarsuku ini di-claim sebagai simbol kesuburan sekalian kesejahteraan.

Festival Lembah Baliem untuk pertama kalinya digelar pada 1989 dan berjalan sepanjang 3 hari. Sebagai penyebab yang munculkan perselisihan antarsuku itu biasa sekitar penculikan masyarakat, atau penyerangan kebun yang baru dibuka sampai pembunuhan anak suku.

Dari skenario itu perang antarsuku itu muncul. Terjadi penyerangan oleh suku yang berasa dirugikan dalam perselisihan itu. Masing-masing suku yang turut serta dalam peperangan tentunya mengirimi prajurit terbaik yang mereka punyai. Plus, diperlengkapi juga pertanda kebesaran yang mereka punyai. Tetapi, bentrokan itu tidak lalu memunculkan balas sakit hati. Mereka masih tetap menggenggam tegar topik yang mereka angkat dalam aktivitas ini. Yaitu, Yogotak hubuluk motog hanoro, maknanya “Keinginan akan hari besok yang perlu lebih bagus dari ini hari”.

Bisa saja buat yang pertama kalinya melihat Festival Lembah Baliem sedikit kesusahan membandingkan prajurit yang turut serta. Yang mana prajurit dari Suku Dani, Lani atau Yali. Buat mengenalnya dapat ditelaah dari koteka yang mereka gunakan.

Untuk prajurit Suku Dani umumnya koteka mereka relatif kecil. Lantas, mereka yang dari Suku Lani semakin besar. Masalahnya rerata badan mereka memang semakin besar. Dan, untuk prajurit dari Suku Yali, koteka-nya panjang dan ramping diikatkan dengan sabuk rotan ke pinggang.

Sedikit mendalami mengenai Suku Dani dalam kerangka perang antarsuku ini. Untuk mereka, berperang ialah untuk menjaga dusun mereka atau membalasnya sakit hati untuk anggota suku yang luruh.

Sementara dari kacamata beberapa pakar, perang buat Suku Dani tidak lebih dari gelaran tunjukkan diri memperlihatkan kedahsyatan dan kemewahan baju dengan semua pernak-perniknya . Maka, bukan semata-mata karena perang, lalu membunuh lawan.

Melalui perang ini Suku Dani ingin memperlihatkan kapabilitas sekalian ketertarikan. Kembali lagi, bukan lantaran ingin membunuh. Untuk peristiwa ini mereka umumnya memakai senjata berbentuk tombak yang panjang 4,5 m, dan busur dan anak panah. Dan, buat mereka yang cedera atau terbunuh dalam perang ini, karena itu selekasnya akan dikeluarkan dari tempat.

Jaman bisa saja berbeda, dan jadi kekinian. Tetapi, sikap beberapa suku di teritori Lembah Baliem pantas dapat acungan jempol. Mereka masih tetap junjung tinggi tradisi istiadat. Ini kelihatan dari acara Festival Lembah Baliem yang dengan teratur diadakan setiap tahun.

Lebih jauh kembali, terlihat terang dari baju yang mereka dipakai. Stabil pada baju tradisi mereka yang pasti ciri khas sekali. Saksikan saja baju pria Suku Dani dengan koteka-nya.

Supaya dijumpai, koteka ini dibikin dari kulit labu air yang dikeringkan. Lantas, diperlengkapi dengan penutup kepala yang dibuat dari bulu-bulu cendrawasih atau kasuari. Berlainan dengan beberapa wanitanya.

Mereka kenakan rok, dibuat dari rumput atau serat pakis yang umum mereka sebutkan sali. Dan, saat mereka bawa babi atau hasil panen ubi, umumnya memakai tas tali atau kerap disebutkan noken, diikatkan di kepala.

Festival Lembah Baliem tidak cuman di ramaikan oleh pertunjukan perang antarsuku, tetapi tetap ada beberapa aktivitas lain. Salah satunya yang paling semarak ialah Acara pesta Babi. Hewan ini diolah secara unik, di bawah tanah.

Selanjutnya disertai juga dengan atraksi musik dan berbagai tipe tari tradisionil asli Papua. Tidak lupa juga, ditampilkan berbagai barang seni dan kerajinan asli bikinan tangan yang tentu saja untuk dipasarkan. Bagaimana tertarik ingin melihat langsung festival yang diprediksi dituruti sekitaran 40 suku itu?[]

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar
Translate »
Ad Clicks :Ad Views :