Oh Snap!

Direktori Wisata Indonesia @2012 - 2020 | All Right Reserved

Home / Mancanegara / Korea / Deoksugung Palace Seoul, Istana Paling Unik Di Seoul Korea Selatan

Deoksugung Palace Seoul, Istana Paling Unik Di Seoul Korea Selatan

/
/

Tempat Budaya Yang Masih Terjaga Kelestarian Di Deoksugung Place Seoul Korea Selatan

Direktori Wisata – Deoksugung plaace Seoul budaya yamh masih terjaga akan kelestarian dari istana yang megah ada di Korea Selatan.

Seoul termasuk kota yang sibuk dengan berjuta alasan, namun ini memiliki khasanah kaya akan budaya yang tentunya masih terjaga di tengah modernisasi saat ini. Salah satunya adalah Deoksugung Palace atau Istana Deoksugung. 

Deoksugung Place Seoul, Istana Paliang Unik Di Seoul Korea Selatan
Deoksugung Place Seoul

Deoksugung Palace adalah istana keempat dari lima Istana dinasti Jeosan yang ada di Korea Selatan dan tempat wisata di Seoul ini di kelilingi bangunan modern lainnya.

Deoksugung juga dikenal sebagai Gyeongun-gung, Istana Deoksugung, atau Istana Deoksu yang juga merupakan kompleks istana bertembok di Seoul.

Isatana yang dihuni oleh anggota keluarga kerajaan Korea selama monarki Joseon sampai periode kolonial sekitar pergantian abad ke-20.

Selain bangunan istana tradisional, ada juga taman hutan, patung Raja Sejong Agung dan Museum Seni Nasional, yang menyelenggarakan pameran khusus. Istana ini terletak di dekat Stasiun Balai Kota. 

Istana Deoksugung bisa dibilang lebih istimewa di antara istana Korea. Karena memiliki taman dan air mancur bergaya modern dan barat.

Ada The Changing of the Royal Guard, di depan Daehanmun (Gate), adalah acara yang sangat populer dengan banyak pengunjung. 

Penjaga kerajaan bertanggung jawab untuk membuka dan menutup gerbang istana selama Dinasti Joseon. Di luar istana ada jalan yang indah dengan dinding batu.

Sejarah Istana Deoksugung Place Seoul

Istana Deoksugung awalnya dibangun sebagai tempat tinggal untuk Pangeran Wolsan, kakak kandung Raja Seongjeong (memerintah dari tahun 1469-1494). Setelah semua bangunan istana hancur terbakar oleh api selama serangan Invasi Jepang pada tahun 1592, 

Istana Deoksugung Place Seoul

Raja Seonjo (memerintah dari tahun 1567-1608) mendirikan tempat tinggal sementara di sini. Raja Gwanghaegun (memerintah dari tahun 1608-1623), yang berhasil mengalahkan Raja Seonjo, memberi nama Istana Gyeogungung pada tahun 1611. 

Raja Injo (memerintah dari tahun 1623-1649) mengadakan upacara penobatan di Jeukodang Hall pada tahun 1623. Saat itu pada tahun 1897 Raja Gojong menyatakan atau memploklamirkan kepada seluruh bangsa dan dunia pembentukan “Kekaisaran Besar Han”. 

Istana ini berganti nama menjadi Istana Deoksugung pada tahun 1907, ketika Kaisar Sunjong naik tahta, dan Istana Deoksugung telah dikenal sejak saat itu.

Seiring perkembangan zaman, proses memodifikasi atau mengubah sesuatu untuk mengganti fungsinya dengan fungsi yang baru dengan meninggalkan fungsi lamanya mulai kembali digaungkan sebagai salah satu upaya konservasi menyesuaikan fungsi baru bangunan.

Baca Juga : 10 Tempat Wisata Yang Jadi Daya Tarik Untuk Dikunjungi di Tokyo

Sekitar dua abad lampau konsep ini sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh kerajaan di Korea pada sebuah kompleks istananya yang bernama istana Deoksu (Deoksugung) yang terletak di pusat kota Seoul.

Pada awalnya istana yang bernama Gyeongungung ini hanya merupakan kediaman pangeran Wolsan, kakak dari Raja Seongjeong yang bertahta pada tahun 1469-1494.

Perjalanan Istana Deoksungung Place Seoul

Pangeran Wolsan bukan merupakn raja maupun putera mahkota sehingga tidak terdapat fasilitas utama kerajaan. Akan tetapi sejak invasi Jepang pada 1592, 

Raja Sonjo memindahkan sementara istana kerajaannya ke kompleks ini hingga tahun 1615. Pada periode ini mulai terjadi perubahan tata letak dari kediaman pangeran menjadi istana kerajaan.

Puncaknya adalah ketika raja Gojong dari dinasti Joseon memproklamirkan dirinya menjadi kaisar dari kekaisaran Korea yang merdeka pada 1897 dan kembali menjadikan kompleks ini menjadi istana kekaisaran Korea. 

Pada era ini area Gyeongungung menjadi 4 kali lebih luas dari yang sekarang dan gerbangnya yang berjulukan Daehanmun berubah menyesuaikan dengan statusnya sebagai istana kekaisaran.

Perpindahan gerbang ini juga menuntut perubahan tata letak istana dan terjadi tidak hanya sekali. Pertambahan luas area istana juga disertai dengan penambahan fasilitas istana kekaisaran, seperti : paviliun singgasana kekaisaran Jeokjodang yang akhirnya dipindah ke paviliun Junghwajeon.

Paviliun lengkap dengan Junghwamun sebagai gerbang singgasana dan Haenggak, tempat tinggal abdi istana,

Paviliun Hamnyeongjeon sebagai bangunanperistirahatan keluarga raja dengan pemisahan area sayap timur untuk raja sedangkan barat untuk permaisurinya.

Pada penjajahan Jepang ukuran kompleks istana kembali berubah seiring kebutuhan jalan raya yang meningkat. Istana ini resmi menyandang nama istana Deoksu setelah raja Gojong turun tahta dan banyak bangunan kekaisaran yang dihilangkan menjadi lanskap pertamanan.

Istana Deoksu memiliki massa bangunan yang memiliki langgam arsitektur beragam karena pergantian fungsi dari kompleks ini.

Istana ini masih memiliki gerbang utama daehanmun sebagai istana kekaisaran yang berciri Korea meskipun beberapa kali terjadi relokasi.

Perubahan tidak hanya terjadi pada letak tetapi juga detil arsitektural bangunannya seperti : Paviliun altar singgasana Junghwajeon yang menjadi tempat penobatan kaisar Gojong

Tempat ini mengalami penyederhanaan bentuk atap setelah tidak menjadi altar utama, penambahan cerobong asap paviliun Hamnyeongjeon setelah tidak menjadi tempat istirahat keluarga raja.

Pemulasaraan Jenazah Pada masa penjajahan Jepang, beberapa bangunan dihancurkan dan beberapa dibangun kembali seperti Hamnyeongjeon yang akhirnya menjadi tempat pemulasaraan jenazah raja lengkap dengan lanskapnya.

Pada salah satu sudut istana terdapat paviliun bergaya Korea-Barat untuk perjamuan kerajaan yang didesain oleh arsitek Rusia AI Sabatin sekitar tahun 1900 sebagai bukti hubungan baik antara kekaisaran Korea dan Rusia saat itu.

Paviliun ini menggunakan batu imitasi sebagai penutup bagian luar pondasi dan memiliki beranda pada ke empat sisinya.

Kunjungi : Gyeongbokgung Palace, Istana Terbesar Dinasti Joseon Seoul Korea Selatan

Pada elemen dekoratif di antara kolom terdapat ukiran dengan motif tradisional Korea seperti : naga biru, naga emas, kelelawar dan bunga.

Keunikan istana ini bertambah kuat dengan keberadaan Seokjojeon yang murni gaya barat neoklasik dengan struktur bangunan batu tiga lantai dan lanskap Eropa karya G.R. Harding dari kekaisaran Inggris Raya.

Interior Istana Deoksungung Place Seoul

Istana Deoksu memiliki massa bangunan yang memiliki langgam arsitektur beragam karena pergantian fungsi dari kompleks ini. Istana ini masih memiliki gerbang utama daehanmun sebagai istana kekaisaran yang berciri Korea meskipun beberapa kali terjadi relokasi.

Interrior Istana Deoksunggung Seoul

Perubahan tidak hanya terjadi pada letak tetapi juga detil arsitektural bangunannya seperti : Paviliun altar singgasana Junghwajeon yang menjadi tempat penobatan kaisar Gojong mengalami penyederhanaan bentuk atap setelah tidak menjadi altar utama, penambahan cerobong asap paviliun Hamnyeongjeon setelah tidak menjadi tempat istirahat keluarga raja.

Pemulasaraan Jenazah Pada masa penjajahan Jepang, beberapa bangunan dihancurkan dan beberapa dibangun kembali seperti Hamnyeongjeon yang akhirnya menjadi tempat pemulasaraan jenazah raja lengkap dengan lanskapnya.

Pada salah satu sudut istana terdapat paviliun bergaya Korea-Barat untuk perjamuan kerajaan yang didesain oleh arsitek Rusia AI Sabatin sekitar tahun 1900 sebagai bukti hubungan baik antara kekaisaran Korea dan Rusia saat itu.

Paviliun ini menggunakan batu imitasi sebagai penutup bagian luar pondasi dan memiliki beranda pada ke empat sisinya.

Pada elemen dekoratif di antara kolom terdapat ukiran dengan motif tradisional Korea seperti : naga biru, naga emas, kelelawar dan bunga.

Keunikan istana ini bertambah kuat dengan keberadaan Seokjojeon yang murni gaya barat neoklasik dengan struktur bangunan batu tiga lantai dan lanskap Eropa karya G.R. Harding dari kekaisaran Inggris Raya.

Kunjungi : Namsan Tower, Objek Wisata Romantis Di Tengah Kota Seoul Korea Selatan

Hal yang cukup signifikan adalah perubahan lanskap istana dengan pembangunan kolam dengan air mancur perunggu yang diletakan tepat di area depan paviliun berbeda dengan tata lanskap Korea yang meletakan elemen air di belakang bangunan.

Pavilion ini sekarang menjadi art museum setelah kontraktor Jepang Okura membangun Yiwangga Art Museum yang jauh lebih besarpada masa penjajahan Jepang bagian sayap baratnya.

Menyusuri Area Istana Deoksugung Place Seoul

Di Istana Deoksugung ini, kita akan disambut oleh gerbang Daehanmun. Setelah itu menyusuri jalan yang di pinggirnya tumbuh pepohonan maple yang akan berubah warna menjadi kuning saat musim gugur. 

Kemudian melalui sebuah gerbang dalam, kita berjalan menuju Junghwajeon, bangunan ruang tahta yang direkonstruksi pada tahun 1906 setelah terbakar di tahun 1904, yang terlihat megah berdiri di tengah-tengah ruang terbuka. Jalan pelintasannya dibuat dengan indah dengan kolom-kolom kecil sepanjang jalan menuju ruang tahta. 

Di bagian depan terdapat prasasti batu berhias yang tampaknya sangat bernilai karena diberi pagar pelindung. Sejarah mencatat dua Raja keturunan Dinasti Joseon naik tahta di istana ini yang salah satunya adalah Raja Gwanghaegun yang mengganti nama istana ini menjadi Gyeongungung.

Jeonggwanheon Deoksugung Palace Seoul

Jeonggwanheon, -terletak di atas bukit kecil di bagian belakang menghadap istana-, merupakan bangunan dengan campuran gaya Barat dan Korea yang pertama kali dibangun pada tahun 1900 oleh arsitek Rusia, A I Sabatin. 

Dibangun sebagai tempat rehat dan bersukacita Raja Gojong, bangunan ini mungkin juga untuk melupakan peristiwa kematian permaisurinya, Ratu Min, yang terbunuh di usia 43 tahun yang akhirnya membuat Raja Gojong menyelamatkan diri ke Agwan Pacheon yang merupakan gedung Perwakilan Rusia.

Kunjungi : Seongsan Sunrise Peak, Tempat Menikmati Matahari Terbit Pulau Jeju di Korea Selatan

Ketika melihat ke dalam ruang tahta, -yang merupakan pusat diskusi politik yang hangat antara pejabat tinggi pemerintahan selama periode Daehanjeguk yang dideklarasikan oleh Raja Gojong dan membawa Korea ke abad 20. 

Terlihat dekorasi sepasang naga yang menghiasi kanopi di atas tahta. Hiasan berbentuk Naga yang terlihat juga di langit-langit merupakan hiasan khas dari Istana Deoksugung.

Hamnyeongjeon Deoksugung Palace Seoul

Bersebelahan dengan ruang tahta Junghwajeon adalah Hamnyeongjeon, wilayah pribadi Sang Raja dan Ratu yang sangat luas.

Jadi berbeda dengan kaum kebanyakan yang hanya memiliki satu ruang tidur untuk suami isteri, Raja maupun Ratu memiliki bangunan pribadinya sendiri-sendiri.

Dan tentu saja, walaupun berjabatan sebagai Ratu, tetap saja memiliki prosedur yang harus dilakukan agar bisa bertemu suaminya, Sang Raja.

Prosesi Penggantian Penjaga Istana di Gerbang Daehanmun

Prosesi penggantian penjaga Istana yang menyerupai prosesi di Istana Buckingham di London itu diwujudkan kembali sejak tahun 1996 setelah melalui riset mendalam dan komprehensif oleh para ahli sejarah Korea.

Memang segala sesuatu yang terjadi di balik tembok Istana atau yang berkaitan dengan Kerajaan selalu menarik perhatian kaum kebanyakan, bisa jadi karena tidak semua orang beruntung terlahir dalam kalangan Istana Kerajaan.

Seperti makan obat, prosesi itu memiliki jadwal tiga kali sehari (pukul 11:00, 14:00 dan 15:30) dan berlangsung selama 30 menit serta selalu mengikuti aturan baku.

Dimulai dengan iringan musik tradisional, pasukan penjaga berpakaian indah penuh warna-warni berjalan dalam barisan rapi lalu komandan pasukan pengganti menemui komandan pasukan yang sedang berjaga untuk saling bertukar password sebagai verifikasi dan memastikan keaslian penugasan. 

Baca juga : Tokyo Tower, Tempat Wisata Tokyo Dari Ketinggian di Jepang

Kemudian dilanjutkan dengan penggantian posisi penjaga dan diakhiri dengan prosesi barisan. Acara ini sudah sangat menarik karena keindahan warna pakaian tradisionalnya.

Bangunan Bergaya Barat di Istana Deoksugung

Istana Deoksugung yang berusia 5 abad itu itu memang unik. Di dalam kawasan istana dibangun beberapa gedung modern bergaya Barat diantara bangunan-bangunan khas tradisional Korea yang terlihat saling berbenturan gaya, namun ternyata disitulah kekuatan utama istana ini, unik. 

Dalam posisi tertentu, kita bisa tak yakin berada di kawasan istana di Seoul. Seokjojeon (yang kini menjadi galeri seni) merupakan bangunan gaya Barat yang dibangun di Deoksugung.

Bangunan dengan taman cantik berair mancur inilah yang membuat para pengunjung tak percaya sebenarnya sedang berada di Seoul atau di Eropa.

Informasi Tambahan

Buka 09:00 – 21:00 (terakhir pembelian tiket pk. 20:00)

Harga Ticket

  • Dewasa 1,000 won / lebih dari 10: 800 won
  • Remaja 500 won / lebih dari 10: 400 won
  • Gratis bagi anak 6 tahun kebawah, atau Lansia 65 tahun ke atas atau bagi yang mengenakan Hanbok atau setiap hari Budaya (Setiap hari Rabu terakhir setiap bulan)
  • Terusan 10.000 Won mencakup Istana Changdeokgung termasuk Huwon dan Secret Garden, Istana Changgyeonggung, Istana Deoksugung dan Istana Gyeongbokgung serta Jongmyo Shrine, yang dapat digunakan dalam waktu satu bulan setelah pembelian.

Jadwal Tutup

  • Setiap Senin: Istana Changdeokgung, Istana Deoksugung, Istana Changgyeonggung
  • Setiap Selasa: Istana Gyeongbokgung dan Jongmyo Shrine

Cara ke Istana Deoksugung

Deoksugung dapat dicapai dengan mengendarai subway line 1 dari Seoul Station dan turun di City Hall, Exit-2. Istana Deoksugung adalah salah satu dari Lima Istana Utama Dinasti Joseon.

Istana Deoksugung pernah menjadi kediaman beberapa pemimpin Dinasti Joseon sampai periode penjajahan Jepang. Jenis bangunan di komplek Istana Deoksugung terdiri dari bangunan kayu dan bergaya barat.

Berlokasi di : Seoul, Korea Selatan

  • Alamat : 99 Sejong-daero, Jeong-dong, Jung-gu, Seoul, Korea Selatan
  • Jam Buka : Selasa – Minggu 09.00 – 21.00
  • Fungsi : Istana
  • Telepon : +82 2-771-9951
  • Tahukah Anda : Deoksugung Palace dikenal sebagai satu-satunya istana dengan beberapa bangunan bergaya barat di dalamnya.

Dengan mengunjungi Deoksugung Plaace Seoul di daerah Korea Selantan, kita akan lebih banyak tahu tentang kekayaan budaya. Semoga bisa menjadi refrensi perjalan Anda bersama keluarga.[]

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest
This div height required for enabling the sticky sidebar
Translate »
Ad Clicks :Ad Views :