Oh Snap!

Direktori Wisata Indonesia @2022 | All Right Reserved

Home / Bali / Wisata Di Pemakaman Unik Desa Trunyan, Bali

Wisata Di Pemakaman Unik Desa Trunyan, Bali

/

Pemakaman Unik di Kaki Pegunungan Batur Desa Trunyan, Bali

Direktori Wisata. – Pemakaman unik Desa Trunyan Bali di kenal sebagai salah satu destinasi wisata yang unik dan menarik. Desa Trunyan dikenal sebagai Desa Bali Asli atau yang dikenal  dengan tempat asal muasalnya orang Bali asli yang berada di bawah kaki bukit pegunungan Batur, Bali.

pintu-gerbang-pemakaman-trunyan-bali

Setelah melakukan perjalanan menggunakan boat dari Pelabuhan Kedisan, Kintamani dengan menyusuri  danau Batur +/- 45 menit dengan menggunakan kapal boat sampailah kami di dermaga yang langsung berhadapan dengan sebuah gapura pintu gerbang “Sema Wayah” atau kuburan yang terdapat di Desa Trunyan. Setelah melalui pintu gerbang, tidak terlalu jauh dari sana, kita akan menemukan sebuah pohon besar yang berdiri di tengah yang bernama Taru Menyan.

batang-pohon-trunyan-bali

Konon menurut informasi salah seorang pemandu wisata lokal sekaligus mitra dari Direktori Wisata, kata “taru” yang berarti pohon dan “menyan” artinya harum. Nama pohon inilah yang menjadi asal muasal kata Desa Trunyan. Pohon tersebut diperkirakan berusia ribuan tahun, dan anehnya ukuran pohonnya tidak banyak mengalami perubahan.

Lanjut informasi……….
Di bawah naungan pohon tersebut terletak kuburan tua. Pohon ini dipercaya masyarakat lokal Desa Trunyan dapat menyerap bau busuk dari jenazah yang mengalami proses pembusukan secara alami. Sampai hari ini belum ada sebuah penelitian yang dapat mengungkapkan dari sudut pandang ilmu pengetahuan, bagaimana pohon tersebut dapat melakukannya untuk menyerap bau busuk dari mayat manusia ?

kuburan-desa-trunyan-bali

Masyarakat Desa Trunyan Bali memiliki cara yang unik dan berbeda memperlakukan kerabat atau keluarga yang meninggal dunia. Seperti biasanya jenazah orang Hindu-Bali disucikan dengan cara jenazah dibakar atau yang disebut dengan “Ngaben”, lain halnya dengan masyarakat Hindu-Bali yang ada di Desa Trunyan Di desa ini kerabat atau keluarga yang meninggal cukup diletakkan di atas tanah. Dan untuk melindungi jenazah, jasad ditutupi dengan “ancak” atau kurungan bambu.

Walau berbeda prilaku adat dengan masyarakat Hindu-Bali lainnya, masyarakat Desa Trunyan menyebut proses ini sama seperti “Ngaben”. Sebab menurut mereka, “Ngaben” sendiri merupakan proses pensucian roh yang sudah meninggal agar bisa kembali bereinkarnasi.

tengkorak-kepala-kuburan-desa-trunyan-bali

Tidak semua jenazah penduduk desa diletakan di area ini. Karena jumlah jenazah yang diletakan di atas tanah dekat pohon Taru Menyan tidak boleh lebih dari sebelas jenazah, dan jenazah yang dapat diletakkan di area ini adalah  yang meninggal secara wajar dan pernah menikah. Bagi janazah yang telah menjadi tengkorak, maka tulang belulangnya dipisah dan diangkat dikumpulkan dengan yang lainnya di dekat akar pohon, agar tempatnya dapat dipergunakan untuk jenazah yang baru.

Baca juga : Pesona Desa Wisata Tegalalang Ubud Bali

Sedangkan bagi jenazah yang penyebab kematiannya tidak wajar, seperti akibat kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayat akan diletakkan di lokasi yang bernama “Sema Bantas”. Dan untuk mengubur bayi dan anak kecil atau warga yang sudah dewasa namun belum mnikah, tempatnya di “Sema Muda”.

Baca juga : Eksotisme Wisata Alam Danau Dan Gunung batur di Kintamani Bali

Lanjut………
Ada juga cerita unik yang Direktori Wisata dapatkan di lokasi ini dari keterangan penduduk setempat secara turun temurun. Dahulu penduduk Desa Trunyan, Bali merasa kebingungan karena muncul bau harum yang sangat menyengat hingga kepelosok desa hingga membuat penduduk lokal menjadi pilek. Setelah ditelusuri, ternyata bau harum itu berasal dari sebuah pohon besar yang dikenal sebagai Taru Menyan.

Atas saran dan ide tetua yang ada di desa tersebut, diletakkanlah janazah di bawah pohon untuk menetralisir bau harum dari pohon tersebut. Dan ide tersebut berhasil, sehingga penduduk desa tidak lagi merasa terganggu dengan bau harum yang sangat menyengat tersebut. Sampai hari ini tata cara penguburan tersebut masih dilaksanakan hingga sekarang oleh penduduk Desa Trunyan.

Kunjungi Kepingan Surga Anak Gunung Krakatau Di Selat Sunda Indonesia

Namun, dibalik kisah cerita atau pun catatan dari sebuah legenda dan sejarah yang ada, kami menilai bahwa kejadian ini sungguh sangat unik dan nyata benar-benar terjadi di alam bumi Bali, Indonesia.

Bagi sahabat Direktori Wisata Indonesia yang ingin mengunjungi kawasan destinasi wisata Indonesia yang memiliki keunikan seperti yang ada di kawasan Desa wisata Trunyan Bali ini, kalian dapat menyaksikannya melalui tayangan Vlog di bawah ini.

Baca juga : Cara Menuju Desa Trunya Bali

Untuk menuju tempat makam unik Desa Trunyan, Bali dapat ditempah dengan menggunakan kapal boat melalui Danau Batur dapat dilihat di dalam Peta.

Wisata Di Pemakaman Unik Desa Trunyan, Bali merupakan perjalanan yang penuh sensasi dan mendebarkan. Di lokasi ini kita dapat menemukan beragam bukti nyata tentang keragaman sebuah nilai tradisi masyarakat lokal Hindu-Bali yang hingga hari ini tetap terjaga dan dilestarikan. Di mana prilaku perbedaan akan sebuah prinsip masyarakat lokal Desa Trunyan dalam memperlakukan jenazah tetap memiliki tujuan yang sama seperti masyarakat lainya, yaitu mendoakan yang terbaik bagi kerabat mereka yang lebih dahulu pergi.[]

  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Pinterest

4 Comments

  1. desa trunyan itu dari nama pohon toh.. pohonnya harumnya seperti apa ya penasaran kayaknya.. keunggulan bali tempat angker seperti pemakaman ini tetap jadi pusat wisata.. (kalau aku ngeri mas hiyyy)

    • Seperti yang saya katakan di dalam artikel Mba, harumnya seperti kemenyan, itu sih menurut informasi loh ya. Namun bila kita ke sana tempat tu tidak tercium bau busuk ko. Dan sebenarnya tempat ini hanya dijadikan tujuan wisata bagi para wisatawan yang benar-benar mau meliha dari dekat lokasi tersebut. Dan datangnya pun tidak malam hari, jadi tidak seram juga sih. Kan sama jug mengingatkan diri sendiri Mba ? he,, he,, he,, 😀

  2. Indahnya budaya kita.kok yo ono pohon kemenyan.itu pohon umure pasti dah ratusan tahun ya.guedi banget

  3. Sampai saat ini tidak ada satu pun penelitian yg bisa menjelaskan bahwa bau mayat disana diserapmoleh pojon menhan yg ada,bisa saja ini adalah sebuah kearifan lokal yang harus kita hormati,tapi menurut sy pribadi yg pernah beberpa kali berkunjung kesana kemungkinan besar itu disebabkan oleh letak geografis kuburan adat disana yaitu di ketinggian 1000 meter yg berhadapn langsung ke danau Batur dan disebelahnya la gsung lereng gunung. Dengan ketinggian seperti itu udara menjadi sangat dingin bahkan bisa mencapai 10 drajat dimalam hari,dimana suhu udara yg dingin bisa mengurangi bau dari pembusukan,juga degan berhadapan langsung dengan danau angin pasti berhembus dari arah danau langsung membawa udara ke atas tebing.Tapi fakta memang semua mayat yg ada disana sama sekali tidak mengeluarkan bau,bahkan buring ataupun binatang binatang yg memangsa mayatpun tidak asa disana,…….

Comments are closed.

This div height required for enabling the sticky sidebar
Translate »
Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views : Ad Clicks : Ad Views :